Selasa, 26 November 2013

Tips mencintai Rasulullah

2. Ikuti ajaran Rasulullah SAW dan menjauhi larangannya.  Manusia akan selalu taat kepada orang yang dicintainya. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah SAW yang mulia, ia akan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegera mewujudkan teladannya dan bersegera menjahui larangannya.
3. Perbanyaklah shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Bershalawat kepadanya memliki berbagai faedah dan manfaat diantaranya dapat mendatangkan kebajikan, dikabulkannya berbagai do’a, mendapatkan syafa’at, mendatangkan shalawat Allah atas hambanya, dan selamat dari kebakhilan.
4. Bencilah orang yang Allah dan Rasul-Nya benci, musuhi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, jauhi orang yang menyalahi sunnahnya, serta bencilah semua perkara yang menyalahi Syariat.
5. Cintailah orang-orang yang dicintai Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sangat mencintai isteri-isterinya, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan seluruh umat Islam yang berpegang teguh pada ajarannya, maka cintailah pula mereka semua.
6. Benarkan dan yakinilah berita-berita yang beliau sampaikan.
7. Laksanakan ibadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi.
8. Cintailah beliau SAW melebihi kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia.
9. Belalah selalu ajaran Rasulullah SAW. Cara membela ajaran beliau adalah dengan menghafal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Rasulullah SAW. Hidupkan pula sunnahnya dan sebarkanlah kepada masyarakat.

menjadi muslimah sejati

Menjadi Muslimah Sejati : Bahagia Sepanjang Masa

  1. Jadilah wanita yang penyayang & lembut dan janganlah menjadi wanita yang kasar dan keras.
  2. JadIlah wanita yang berwajah berseri &selalu tersenyum dan janganlah menjadi wanita yang bermuka masam dan selalu cemberut.
  3. Jadilah wanita yang bijaksna dan sabar dan janganlah menjadi wanita yang plin-plan dan temperamental.
  4. Jadilah seorang ibu yang menghangatkan dan janganlah menjadi wanita yang dingin hingga dijauhi.
  5. Jadilah wanita yang dicintai dan dirindukn dan jangan menjadi wanita yang lalai dan dilalaikan.
  6. Jadilah wanita mukminah dan bersyukur dan janganlah menjadi wanita kafir dan kufur.
  7. Jadilah wanita pencemburu yang dicintai dan jangan menjadi wanita pencemburu yang menghancurkan.
  8. Jadilih wanita pengatur rumah tangga yang qana'ah dan janganlah menjadi wanita yang mubadzir.
  9. Jadilah wanita penghuni surga dan janganlah pernah menjadi wanita penghuni neraka.
  10. Jadilah sahabat wanita yang dicintai dan janganlah menjadi musuh yang dibenci.
  11. Jadilah wanita yang pendiam dan lemah-lembut dan janganlah menjadi wanita yang cerewet dan kasar.
  12. Jadilah wanita seperti, Khadijah, Zainab, dan Aisyah. Dan janganlah menjadi seperti istri Nabi Luth dan istri Nabi Nuh…!
  13. Jadilah wanita seperti wanita yang ALLAH suka melihatnya dan janganlah menjadi wanita seperti wanita yang setan suka melihatnya

sejarah perkembangan hadist masa Rasulullah

A.    Sejarah perkembangan hadist pada masa Rasulullah SAW

Sejarah perkembangan hadist pada masa Rasulullah SAW disebut dengan periode ‘ashr Al-wahyi wa At-Taqwin’ (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat islam)[1]. Pada periode inilah, hadist lahir berupa sabda (aqwal), af’al[2], dan taqrir[3] nabi yang berfungsi menerangkan al-Qur’an untuk menegakkan syariat islam dan membentuk masyarakat islam.
Para sahabat menerima hadist secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara langsung misalnya saat nabi SAW, memberi ceramah, pengajian, khotbah atau penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun penerimaan secara tidak langsung adalah mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik dari utusan yang dikirim oleh nabi kedaerah-daerah atau utusan daerah yang datang kepada nabi.
Pada masa nabi SAW kepandaian baca tulis dikalangan para sahabat sudah bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis dikalangan sahabat masih kurang, nabi menekankan untuk menghafal, memahami, memelihara, mematerikan, dan memantapkan hadist dalam amalan sehari-hari, serta mentablighkannya kepada orang lain.
Tidak ditulisnya hadist secara resmi pada masa nabi, bukan berarti tidak ada sahabat yang menulis hadist. Hadist atau sunnah nabi tidak ditulis seperti Al-Qur’an, karena ada larangan Nabi Saw. Dalil yang menunjukkan hal ini ialah :
لاَتَكْتُبُوْاعَنِّيْ شَيْئًا اِلاَّ اْلقُرْان ومن كتب عني شيئا غير القران فليمحه
“Janganlah kamu menulis sesuatu yang berasal dari padaku, terkecuali Al-Qur’an. Dan barang siapa telah menulis dari padaku selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya.”[4]
Dari hadist ini, dapatlah dipahami, bahwa yang boleh ditulis tentang apa yang disampaikan oleh Rasulullah kepada para sahabat-sahabatnya, hanyalah ayat-ayat Al-Qur’an saja. Sedang yang lainnya, tidak boleh ditulis. Hal ini dimaksudkan, agar ayat-ayat Al-Qur’an jangan sampai bercampur dengan yang bukan ayat-ayat Al-Qur’an. Demikian, alasan logis yang dapat diambil dari padanya. Adapun nama-nama sahabat yang menulis hadist, diantaranya:    a. ‘Abdullah ibn Amr ibn ‘Ash, shahifah-nya disebut Ash-Shadiqah.
a.       Ali ibn Abi Thalib, penulis hadist tentang hukum diyat,hukum keluarga dan lain-lain.
b.      Anas ibn Malik.
Disamping itu, ketika nabi SAW, menyelenggarakan dakwah dan pembinaan umat, beliau sering mengirimkan surat-surat seruan pemberitahuan, antara lain kepada para pejabat didaerah dan surat tentang seruan dakwah islamiyah kepada para raja dan kabilah, baik ditimur, utara, dan barat. Surat-surat tersebut merupakan koleksi hadis juga. Hal ini dilakukan sekaligus membuktikan bahwa pada masa nabi SAW telah dilakukan penulisan hadis dikalangan sahabat.



[1] Barmawie umarie. Status Hadist sebagai Dasar Tasjri.Solo:AB.Siti Sjamsijah. 1965.hlm.13.Lihat juga Soetari.op.cit.hlm.33
[2] Perbuatan
[3] Persetujuan/ketetapan
[4] HR.Muslim

pengertian tasawuf

A.    Pengertian Tasawuf

Pengertian tasawuf menurut harun nasution tinjau dari segi bahasa terdapat lima kata, yaitu al-suffah (ahl al-suffah) atau orang yang ikut pindah dengan nabi dari mekkah ke madinah, saf  (barisan), sufi (suci), sophos (bahasa yunani: nikmat), dan suf (kain wol). Keseluruhan kata ini bisa-bisa saja dihubungkan dengan tasawuf.
Dari kelima kata tersebut tasawuf dapat dipahami adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia. Adapun pengertian tasawuf dari segi istilah pendapat para ahli menurut sudut pandang yang digunakan masing-masing. Ada tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf, yaitu: 1. sudut pandang manusia sebagai makhluk terbatas, mendefinisikan tasawuf sebagai upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia, dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah SWT, 2.sudut pandang manusia sebagai makhluk yang harus berjuang, mendefinisikan tasawuf sebagai upaya memperindah diri dengan akhlak yang bersumber dari ajaran agama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT, 3. Sudut pandang manusia sebagai makhluk yang ber-Tuhan, mendefinisikan tasawuf sebagai kesadaran fitrah (ke-Tuhanan) yang dapat mengarahkan jiwa agar tertuju kepada kegiatan-kegiatan yang dapat menghubungkan manusia dengan tuhan.
Jika tiga definisi tasawuf tersebut diatas satu dan lainnya dihubungkan, maka segera tampak bahwa tasawuf pada intninya adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah SWT. Dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan tuhan. Inilah esensi atau hakikat tasawuf.


praktikum III akhlak tasawuf


Praktikum III (Anis Nurfitriani KPI I/D)
judul :
“Pengalaman Anis Nurfitriani mengamalkan/mendawamkan surah ar-rahman setelah setiap shalat fardu atau setiap saat.”

Pada ayat 26 surah ar-rahmaan yang memiliki arti semua yang ada dibumi itu akan binasa, mengajarkan kepada saya bahwa tidak ada yang kekal didunia ini. Bahwa semuanya akan binasa. ketika membaca ayat ini perasaan saya sangatlah takut, betapa saya belum mempunyai amal baik yang banyak, namun sejatinya kita harus tetap siap dalam menyambut kedatangan maut yang akan menjemput kita.
Pada ayat 27 surah ar-rahmaan yang memiliki arti dan tetap kekal wajah tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan, mengajarkan pada saya bahwa hanya Allahlah Zat yang kekal dimana semua yang ada dibumi ini akan binasa. Ketika membaca ayat ini saya merasakan banyak sekali kebodohan yang saya lakukan, betapa saya sering mengakhirkan Cinta Allah kepada saya, zat yang tak pernah tertidur. membuat saya sadar sepenuhnya bahwa segala permasalahan hidup saya bisa dengan mudah Allah tangani.
Pada ayat 29 surah ar-rahmaan yang memilki arti semua yang ada dilangit dan dibumi selalu meminta kepada-Nya setiap waktu Dia dalam kesibukan, mengajarkan saya bahwa hanya kepada Allah lah kita memohon, Zat yang selalu ada untuk kita. ketika saya membaca dan memahami ayat ini saya merasakan kembali menjadi kuat pada setiap masalah yang saya hadapi, karena saya menjadi yakin bahwa Allah selalu ada untuk membantu saya dalam setiap permasalahan hidup saya.
pada ayat 33 surah ar-rahmaan yang memiliki arti hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan, mengajarkan saya betapa saya sebagai hamba-Nya yang lemah takkan mampu untuk menggapai sesuatu tanpa adanya bantuan dari Allah. saat membaca ayat ini saya merasakan bahwa saya amatlah sangat sombong ketika saya merasa keberhasilan yang saya dapatkan ini adalah hasil dari jerih payah sendiri, padahal sejatinya itu tak luput atas qadar nya Allah SWT.
inilah pengalaman saya dalam membaca dan memahami beberapa ayat dalam surah Ar-rahmaan.